Pusat Studi Lingkungan Universitas Islam Indonesia - PSL UII

UII-QUOTATION-PSL-1.jpg
You are here: Home
Recruitment RELAWAN
Written by Administrator   
Thursday, 26 January 2012
Last Updated ( Thursday, 26 January 2012 )
 
SOSIALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF BERBASIS PENGELOLAAN SAMPAH DI LOKASI HUNTARA MERAPI
Written by Administrator   
Monday, 16 January 2012
Sebelum terjadinya erupsi,  perempuan merapi hidup dengan berbagai macam kegiatan yang produktif, yaitu bertani, berkebun, beternak, berdagang, menjual jasa, serta kegiatan ekonomi lainnya. Perempuan merapi  menikmati hidup bahagia dan tenang, tanpa ada rasa was-was. Erupsi Gunungapi Merapi yang terjadi pada tahun 2010 memuntahkan material vulkanik  menutup dan merusak lahan yang subur ini termasuk bentang alamnya. Makin hebat letusan gunungapi terjadi, makin tinggi tingkat kerusakan lahannya. Kegiatan–kegiatan yang mendukung perekonomian masyarakat boleh dikatakan rusak. Pascaerupsi Merapi secercah harapan mulai muncul dibalik derita para korban, mereka termotivasi untuk bangkit kembali.

Pusat Studi Lingkungan melakukan kegiatan sosialisasi tentang Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Pengelolaan Sampah Di Lokasi  Hunian Sementara (Huntara) Merapi Gondang 1 Kepuharjo, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 13 Januari 2012. Kegiatan dimulai pukul 09.00 – 11.30 wib. Kegiatan ini dihadiri oleh warga hunian sementara merapi khususnya kaum ibu-ibu. Semangat dan antusias dari ibu-ibu merapi terlihat dari awal sampai selesainya kegiatan.

Pemateri tentang pengelolaan sampah di sampaikan oleh Dosen Teknik Lingkungan sekaligus praktisi pengelolaan sampah UII Bpk.  Hijrah Purnama Putra ST, M.Eng. Menurut bpk. Hijrah, sampah perlu dikelola karena masyarakat memiliki kebiasaan membuang sampah, membakar, “mengalirkan” sampah ke sungai serta mengubur yang mana hal ini bisa mengakibatkan terjadinya pencemaran dan bahkan dapat mengakibatkan terjadinya konflik sosial. Upaya yang bisa kita lakukan untuk mengurangi timbulan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah dengan melakukan pemilahan sampah terhadap sampah organik dan anorganik serta  pengelolaan sampah melalui prinsip 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Sampah – sampah yang bahan dasarnya terbuat dari plastik seperti bungkus kemasan detergen, pewangi pakaian, dan sebagainya dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan dasar tas, sendal, dompet yang memiliki nilai ekonomis. Sehingga sampah yang terlihat tidak berharga apa bila dimanfaatkan kembali akan  bisa menjadi sumber penghasilan untuk warga hunian sementara Gondang 1 Kepuharjo Sleman. “Kegiatan ini bukan merupakan pertemuan pertama dan terakhir, akan ada tindak lanjut dari kegiatan ini” tutur ketua Pusat Studi Lingkungan Ibu Any Juliani. ST, MSc.
Last Updated ( Monday, 16 January 2012 )
 
Etika Lingkungan dalam Mengatasi Kerusakan Lingkungan Hidup
Written by Administrator   
Thursday, 29 December 2011
Krisis lingkungan global yang terjadi pada saat sekarang ini antaralain terjadinya kerusakan (hutan, tanah, lapisan ozon), pencemaran (air, tanah, udara, laut), kepunahan sumber daya energi dan mineral, kepunahan keanekaragaman hayati, dan lain-lain. Dimana  Krisis lingkungan global sudah merupakan ancaman yang sangat serius dan nyata terhadap kehidupan manusia. Apa yang menjadi akar permasalahan dalam krisis lingkungan hidup? Menurut Sony Keraf  mantan Menteri Lingkungan Hidup yang diundang  sebagai pembicara pada Rapat Teknis Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup,  yang diadakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa, berpendapat bahwa yang menjadi akar permasalahan krisis lingkungan global adalah: pertama, kesalahan cara pandang (paradigma) manusia terhadap dirinya, alam dan hubungan manusia dengan alam. Sifat manusia yang tamak, rakus, pola konsumsi, eksploitatif dan tidak bertanggung jawab merupakan salah satu permasalahan yang ada. Kedua,  kesalahan paradigma pembangunan, dimana pembangunan berkelanjutan hanya sebagai jargon, yang pada kenyataannya pembangunan yang terjadi mengorbankan lingkungan. Ketiga,  adanya bad government, bad ethics seperti KKN yang menyebabkan ijin eksploitasi tanpa peduli lingkungan hidup.
 
Teori etika lingkungan menurut Sony Keraf terbagi tiga, yaitu: Antroposentrisme: lingkungan diperhatikan sejauh memenuhi kepentingan manusia (yang utama adalah kepentingan ekonomi manusia). Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak langsung. Biosentrisme: Lingkungan hidup diperhatikan karna berkaitan dengan tanggung jawab moral menjaga kehidupan. Ekosentrisme: manusia adalah bagian dari alam, maka alam menjadi tanggung jawab manusia; seluruh ekosistem bernilai karna kehidupan bergantung pada eksosistem; makhluk ekologis.  Cara pandang antroposentrisme, kini dikritik secara tajam oleh etika biosentrisme dan ekosentrisme. Bagi biosentrisme dan ekosentrisme, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk sosial. Manusia pertama-tama harus dipahami sebagai makhluk biologis, makhluk ekologis. Dunia bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental. Etika ini mengakui nilai intrinsik semua makhluk hidup dan memandang manusia tak lebih dari satu untaian dalam jaringan kehidupan.
 
Menurut Sony Keraf, untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut di atas, maka perlu dilakukan tindakan agar krisis lingkungan dapat teratasi yaitu: pertama, perubahan perilaku. Kedua, perubahan paradigma pembangunan dari pembangunan berkelanjutan ke pembangunan keberlanjutan ekologi. Ketiga,  perlunya Good Environmental Government, yang memiliki komitmen moral yang konsisten (individu, masyarakat, dunia usaha dan pemerintah).
Last Updated ( Thursday, 29 December 2011 )
 
UII Peringkat ke 6 Kampus Hijau Tingkat Nasional
Written by Administrator   
Thursday, 15 December 2011
Berdasarkan UI Green Metric Ranking of World Universities 2011, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menduduki peringkat ke 83 untuk tingkat dunia dan peringkat ke 6 untuk tingkat nasional. Dibandingkan dengan tahun 2010 UII mengalami penurunan pada tingkat dunia yaitu dari peringkat ke 65 turun menjadi peringkat ke 83 pada tahun 2011, sedangkan pada tingkat nasional dibandingkan dengan tahun 2010 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari peringkat  ke 11 naik menjadi peringkat ke 6 pada tahun 2011. Hal ini menunjukan bahwa pencapaian “Green Campus” UII untuk tingkat nasional mengalami peningkatan dan perlu mendapatkan apresiasi  dari berbagai pihak atas pencapaian yang baik ini. “Diharapkan dengan  Keikutsertaan Universitas Islam Indonesia dalam UI Green Metric Ranking of World Universities ini akan menjadikan Kampus UII menjadi lebih Green lagi” Papar Any Juliani selaku Ketua Pusat Studi Lingkungan UII.
UI Green Metric Ranking of World Universities adalah merupakan inisiatif dari Universitas Indonesia yang telah dilauncing pada tahun 2010. Adapun tujuan dari peringkat ini adalah untuk memberikan hasil survei online mengenai kondisi dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan Kampus Hijau dan Keberlanjutan Universitas di seluruh dunia. Diharapkan bahwa para pemimpin universitas dan stakeholder, lebih banyak memberikan perhatian dalam menghadapi perubahan iklim global, konservasi  air dan energi, daur ulang limbah, dan transportasi hijau. Kegiatan-kegiatan tersebut akan membutuhkan perubahan perilaku dan memberikan perhatian lebih terhadap kelestarian lingkungan, serta masalah ekonomi dan sosial yang terkait dengan keberlanjutan.
Berdasarkan hasil korespondensi dan survei serta pemeringkatan langsung yang dilakukan secara online, terpilih 178 Universitas dari 42 negara di dunia yang dinilai memenuhi standar. Beberapa negara yang berpartisipasi dalam UI Green Metric Ranking of World Universities 2011 antara lain adalah Perancis, Palestina, Cili, Cekoslovakia, Rumania, Afrika Selatan.
Pemeringkatan UI Green Metric of World Universities 2011 dilandasi oleh tiga filosofi dasar, yakni Enviroment, Economic, dan Equity (3’Es). Berbagai peningkatan metodologi dan survei terus dilakukan oleh Tim UI Green Metric guna menghasilkan pemeringkatan yang komprehensif, salah satunya dengan mengembangkan bobot indikator penilaian yang terdiri dari Statistik Kehijauan Kampus (24 %), Pengelolaan Sampah (15%), Energi dan Perubahan Iklim (28%), Penggunaan Air (15%), dan Transportasi (18%).

Last Updated ( Thursday, 15 December 2011 )
 
Mandiri Mengelola Merapi
Written by Administrator   
Monday, 07 November 2011

Oleh: Ribut Lupiyanto (www.lupy-indonesia.blogspot.com)

Lebih dari setahun telah berlalu erupsi terdahsyat Gunungapi Merapi sepanjang abad ini. Saat itu hampir seluruh komponen negeri bahu membahu turut berempati. Bantuan sosial berupa sembako, dana, perlengkapan rumah tangga, dan lainnya terus mengalir dari seluruh pelosok negeri. Apresiasi tinggi patut kira berikan atas uluran tangan semua pihak tersebut. Namun, sesaat erupsi berangsur-angsur mereda dan ketika isu merapi tak lagi seksi di mata media, satu per satu pun mulai balik kanan tidak sanggup melanjutkan partisipasi yang tak jelas kapan berakhirnya.  Hanya satu dua lembaga kemanusiaan yang terus berjuang mendampingi para korban bahkan hingga kini.

Pascaerupsi Merapi secercah harapan mulai muncul dibalik derita para korban. Mereka termotivasi untuk bangkit kembali, salah satunya karena janji pemerintah untuk segera memulihkan kondisi. Tidak ada yang meragukan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak yang terjadi. Tapi kemajuan yang kita lihat seakan belum sepadan dengan harapan yang dibebankan. Masalah relokasi belum juga tuntas. Apalagi rehabilitasi lahan dan lingkungan. Kalau boleh jujur, sudah berapa banyak pihak yang turut andil memikirkannya, berapa kali diskusi memperbincangkannya, hingga berapa banyak instansi yang memproyekkannya. Semua seakan berjalan sendiri dan tidak ada yang bisa menjamin kapan semua itu sampai ke tujuannya. Apa pun hasilnya, satu hal positif yang bisa kita dapatkan adalah semua ini menjadi potensi besar bagi keberlanjutan pengelolaan Merapi. Bencana Merapi diyakini banyak ahli masih akan terulang dalam siklus 4-5 tahunan. Artinya, pekerjaan pengelolaannya perlu memperhatikan aspek keberlanjutan jangka panjang dalam sistem yang efektif dan efisien.
 
Sutikno  (2007) dalam bukunya “Kerajaan Merapi” menegaskan bahwa selain memberikan ancaman bencana, Merapi juga menyimpan dan akan senantiasa memberikan potensi. Hal ini dibuktikan dengan nilai daya dukung wilayah di daerah pengaruh Merapi yang termasuk tinggi. Atau dalam bahasa lain, Mbah Rono (Kepala PVMBG) menyebutkan bahwa dibalik erupsi, Merapi sesungguhnya sedang memberi. Dari kenyataan ini sudah jelas bahwa konteks pengelolaan Merapi yang berkelanjutan adalah bagaimana menyeimbangkan pemanfaatan potensi dan meminimalisasi kerugian bencana. Keduanya dapat dihubungkan dalam sistem manajemen yang saling menguatkan.
Last Updated ( Monday, 07 November 2011 )
Read more...
 
Workshop ‘UII Menuju Kampus Lestari’
Written by Administrator   
Wednesday, 13 July 2011
Guna membahas secara mendalam isu mengenai kelestarian alam global sebagai bagian dari perwujudan visi UII sebagai rahmatan lil `alamin, diselenggarakan workshop ‘Membangun Kebijakan Kampus Lestari UII’ di Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito Lantai 2 Kampus Terpadu UII. Selain itu, workshop ini juga bertujuan dalam memberikan dukungan riil upaya UII menuju World Class University (WCU) pada rating yang tinggi. "Sebagai perguruan tinggi, UII mempunyai pengaruh terhadap lingkungan. Oleh karena itu, harus dipikirkan bagaimana suatu kampus bisa dikelola sebagai green campus berdasarkan keselamatan ekologis. Selain bermanfaat dari segi ekonomi, green campus juga dapat menjadi sarana untuk mencapai international recognition" papar Any Juliani, ST., M. Sc selaku ketua panitia yang juga Kepala PSL UII.
 
Acara ini diprakarsai oleh Badan Perencana (BP) UII, dan didukung sepenuhnya oleh Departemen Peneltian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII, Pusat Studi Lingkungan (PSL) UII, serta Prodi Arsitektur Fakultas Teknil Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII.  Sasaran kegiatan workshop ini adalah seluruh stakeholder di lingkungan UII yakni Yayasan Badan Wakaf, Pimpinan dan Rektorat, Fakultas, Prodi, Mahasiswa, dan Masyarakat sekitar kampus UII. Workshop ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam membangun persepsi komprehensif yang sama serta kesadaran dan komitmen dalam mengimplementasikan konsep dan kebijakan kampus lestari UII antar-stakeholder tersebut.

Hadir sebagai narasumber Ir. Teuku Abdul Rahman Hanafiah, M.Sc. dari Badan Standarisasi Nasional, membahas ‘Kebijakan Standarisasi Di Bidang Lingkungan Terkait Green Campus Di Indonesia’, Ir. Ahmad Jauhara dari Green Building Council Indonesia,  membahas ‘Green Building, Konsep, Pengukuran, Dan Implementasinya’, Dr. Suyud Warno Utomo, M.Si. dari Departemen Kesehatan Lingkungan Univ. Indonesia (UI), membahas ‘Implementasi Kebijakan Green Campus di Universitas Indonesia (UI)’, dan Dr. Mustaqim Yayasan Badan Wakaf UII, membahas ‘Kebijalkan Pengelolaan Dan Pengembangan Sarana Dan Prasarana Di Kampus UII’. Terakhir, hadir sebagai narasumber sekaligus membuka workshop dengan resmi, Wakil Rektor III UII, Ir. Bachnas, M.Sc., membahas ‘Kebijakan Green Kampus di Universitas Islam Indonesia’. Workshop ini dimoderatori langsung oleh Kepala Badan Perencana UII Dr. Ir. Hari Purnomo, MT.
Last Updated ( Thursday, 14 July 2011 )
Read more...
 
PSL UII dan Muhammadiyah Agendakan Sarasehan Eco-Spiritual
Written by Administrator   
Wednesday, 01 June 2011

Lingkungan yang nyaman, asri, dan lestari menjadi kebutuhan pokok manusia. Sayangnya kebanyakan karena manusia juga lingkungan menjadi rusak dan mengancam. Rentetan bencana yang ditimbulkan hadir hampir tanpa jeda. Banjir, tanah longsor, dan polusi terus menyapa bangsa Indonesia. Di level makro, dunia kini juga terancam munculnya isu pemanasan global atau perubahan iklim.

Banyak pihak telah memberikan perhatian terhadap masalah lingkungan ini. Pengelolaan lingkungan menjadi isu yang sangat penting. Selama ini pendekatan masih mengandalkan teknologi, hukum dan kebijakan institusional. Ada satu hal yang tertinggal diupayakan yakni membangun kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. Ini penting, karena kesadaran lingkungan mencerminkan sikap batin yang menjiwai dan memotivasi seseorang, masyarakat, bangsa atau negara yang memperhatikan kelestarian lingkungan di saat mereka mengelola sumberdaya alam dan lingkungan itu sendiri.

Upaya membangun kesadaran manusia dalam memelihara dan menjaga kualitas lingkungan yang harmonis dan serasi dengan pola kebutuhan hidupnyamembutuhkan sentuhan sisi keyakinan dan kesadaran manusia tentang arti pentingya pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan. Disinilan agama memegang peran kunci. Agama (spritual) senantiasa melekat erat pada setiap individu manusia. Agama juga mampu memberikan guide yang nyata dan jelas tentang apa dan bagaimana manusia tersebut berinteraksi dengan lingkungannya.

Banyak hal yang masih harus digali agar pendekatan agama mampu optimal mengelola lingkungan. Pusat Studi Lingkungan (PSL) Universitas Islam Indonesia (UII)  dan  Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY sebagai institusi Ke-Islaman dan institusi pemerhati lingkungan memiliki kepentingan dan tanggung jawab untuk mendorong tumbuh kembangnya penerapan Eco-Spiritual. Dalam menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PSL UII dan MLH PWM DIY akan menyelenggarakan saresehan “Ecospiritual dan Pencegahan Bencana Lingkungan” pada hari Sabtu, 4 Juni 2011. “Sarasehan akan dilangsungkan di Gedung PWM DIY dengan menghadirkan pembicara dari Kementerian Lingkungan Hidup, dan PWM, dan UII” jelas Any Juliani, Kepala PSL UII, di ruang kerjanya.

Last Updated ( Wednesday, 01 June 2011 )
 
Go Green Dengan Energi Nuklir
Written by Administrator   
Friday, 08 April 2011

Selain krisis ekonomi dan energi, pemanasan global (global warming) adalah problem nyata yang harus dihadapi dunia sejak awal abad 21 ini. Nuklir sebagai sumber energi yang sedikit mengeluarkan gas rumah kaca bisa menjadi salah satu pilihan dalam upaya kita menghadapi pemanasan global. Meski begitu aspek keamanan dan keselamatan bagi masyarakat dan lingkungan tetap harus menjadi prioritas utama.

Pengurangan emisi CO2, salah satu jenis gas rumah kaca penyebab pemanasan global adalah merupakan tantangan utama peradaban modern. Efisiensi penggunaan energi, pengurangan eskploitasi energi fosil (batubara, minyak dan gas) dan optimalisasi energi baru terbarukan merupakan langkah nyata yang harus kita lakukan bersama.

Energi nuklir sebagai sumber energi yang sedikit mengeluarkan gas rumah kaca menjadi salah satu pilihan guna mendukung upaya pelestarian lingkungan. Namun berkaca dari pengalaman terkini pemanfaatan energi nuklir, upaya peningkatan standar keselamatan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir akan tetap menjadi prioritas utama guna menjaga keselamatan lingkungan dan manusia, sekaligus menjawab tantangan pemanasan global.

Last Updated ( Friday, 08 April 2011 )
Read more...
 
Dengan Hibah DPPM UII, Peneliti PSL Kaji Dua Topik Bencana Merapi
Written by Administrator   
Thursday, 30 December 2010
Erupsi atau letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 ini telah menimbulkan bencana yang luar biasa pada komunitas di sekitarnya. Kampus Terpadu UII juga mengalami dampak yang cukup signifikan terutama karena terkena hujan abu vulkanik. Bahkan, pascaletusan yang dahsyat 5 November 2010, kegiatan akademik di UII diliburkan sampai dengan Hari Idul Adha, dan proses administrasi di Kampus Terpadu UII sempat dialihkan ke Kampus UII di Cik Di Tiro, Tamansiswa, dan Condong Catur.
UII telah dan akan bersungguh-sunguh untuk terlibat secara langsung dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di kawasan Merapi. UII memiliki beberapa pakar yang dapat memberikan kontribusi secara langsung dan siap untuk bekerja sama dengan pihak-pihak yang berkompeten. Dalam rangka itu, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UII awal Desember ini meluncurkan program Pengabdian, Rekonaisan, dan Penelitian dengan fokus pada pengembangan kawasan Merapi pasca bencana.
Dr-Ing. Widodo, Direktur DPPM UII menjelaskan bahwa tujuan diadakannya kegiatan pengabdian, rekonaisan, dan penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi secara akademik oleh Dosen UII pada pengembangan kawasan Merapi pascabencana. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi batu loncatan untuk bisa melakukan sinergi kegiatan sejenis dengan pihak luar.
Peneliti-peneliti PSL merasa terpanggil untuk turut berkontribusi. Untuk itu diajukan 3 judul proposal penelitian dengan topik kerusakan bangunan, bahaya awan panas, dan lahar dingin di Sungai Code. Hasil evaluasi Tim Reviewer DPPM UII, dua proposal dinyatakan layak untuk didanai menjadi penelitian. “Dua proposal peneliti PSL yang lolos berjudul Kajian Kerusakan Bangunan Akibat Erupsi Gunungapi Merapi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman, dengan ketua Ibu Any Juliani serta Analisis Kemampuan Tampungan Sungai Code Terhadap Material Lahar Dingin Pascaerupsi Gunungapi Merapi Tahun 2010, yang diketuai Bapak Widodo” papar Ribut Lupiyanto, Ketua Divisi Riset PSL UII.

Last Updated ( Thursday, 30 December 2010 )
 
Mahasiswa UII Temukan Bahan Bakar Alternatif dari Briket Arang Serbuk Gergaji yang dioles Olie Bekas
Written by Administrator   
Saturday, 25 December 2010
Baru-baru ini pemerintah berencana mengurangi lagi subsidi BBM sebagai dampak defisitnya APBN sehingga kebijakan tersebut berimbas pada naiknya kebutuhan rumah tangga. Salah satunya adalah bahan bakar gas dan minyak tanah, kondisi tersebut mengakibatkan seluruh kebutuhan rumah tangga terus naik. Dalam permasalahan ini, mahasiswa Teknik Lingkungan FTSP UII, Eva Hapsari yang dibantu oleh Annisa, berupaya mencari jalan keluar khususnya bagi warga masyarakat Panggungharjo Sewon Bantul, dengan menciptakan bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah dan gas yaitu dengan pembuatan briket serbuk gergaji. Briket itu sendiri adalah bahan bakar karbon dalam suatu bentuk yang variatif di produksi dari limbah bahan organik maupun turunannya yang masih mengandung sejumlah energy. Penggunaan serbuk gergaji sebagai bahan dasar briket diambil karena di dalam kayu terdapat rantai karbon yang sangat berperan dalam proses pembakaran. Serbuk gergaji yang diambil dalam penelitian ini berasal dari limbah industri kayu yang dibuang begitu saja tanpa ada pengolahan limbah secara optimal, sehingga limbah tersebut bisa di daur ulang dan dimanfaatkan kembali. Hal ini terungkap dalam acara Seminar Nasional IBE (Innovation on Built Environment) FTSP UII bekerja sana dengan Werder Germany, Jumat 24 Desember 2010 di Kampus Terpadu UII. Seminar ini juga menampilkan beberapa presenter baik dari dalam UII sendiri seperti, Dr. Makruf bicara tentang sofware seismic gempa bumi, Dr.Ing. Widodo Brontowiyono dg tema Pengembangan RTH (Ruang Terbuka Hijau) di Perkotaan, Dr. Amini tentang Model Pengambilan Pasir di sungai yang aman lingkungan, Dr Fauziah, Dr. Albany tentang training mandor untuk bangunan tahan gempa, Ahmad Saifudin IAI yang juga pengusaha real estate bicara tentang green property, Corry Yakob bicara tentang ancaman polusi udara dalam transportasi, dsb, juga pembicara dari luar UII seperti Prof. Junaedi dll.
Last Updated ( Saturday, 25 December 2010 )
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>

Results 1 - 10 of 74