Pusat Studi Lingkungan Universitas Islam Indonesia - PSL UII

UII-QUOTATION-PSL-4.jpg
You are here: Home arrow Berita
Berita
PEMANFAATAN LIMBAH POHON SALAK Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 17 April 2012

Limbah atau yang sering disebut dengan sampah dapat dimanfaatkan, termasuk limbah dari pohon salak. Limbah pohon salak termasuk sampah organik  dapat dimanfaatkan sebagai kompos, kerajinan, bioetanol, mikro Organisme Lokal, Obat, alat untuk pijat terapi, keset dan lain-lain. Demikian disampaikan oleh Nelly Marlina, ST, MT disaat mengisi sosialisasi pemanfaatan limbah salak di lokasi KKN UII unit 61, Turi pada 12 April 2012.  
 
Nellya Marlina,ST, MT yang juga termasuk peneliti PSL UII menyebutkan bahwa limbah salak yang dapat dijadikan pupuk organik adalah dahan salak, salak busuk dan buah salak. Sebagai contoh untuk membuat kompos, ia menyebutkan ada beberapa bahan yang perlu dipersiapkan diantaranya sampah lapuk sekitar 2 - 4 m3, 6,5 m3 limbah salak, 750 kg kotoran ternak, 30 kg abu dapur. Selanjutnya perlu juga dipersiapkan medianya dengan membuat bak pengomposan dari bak semen atau dengan menggali lubang, Aduk semua bahan menjadi satu kecuali abu, Masukkan ke dalam bak pengomposan setinggi 1 meter, tanpa dipadatkan, kemudian taburi bagian atas tumpukan bahan tadi dengan abu.
 
Selanjutnya Ia menuturkan, Tampunglah cairan yang keluar dari bak. Siram ke permukaan campuran untuk meningkatkan kadar nitrogen dan mempercepat pengomposan. “2 - 3 minggu kemudian, balik-balik bahan kompos setiap minggu. Setelah 2 -3 bulan kompos sudah cukup matang. Jemur kompos sebelum digunakan hingga kadar airnya 50 -60 % saja” paparnya.
 
Disamping berguna bagi pembuatan kompos, limbah salak pun dapat digunakan sebagai Mikro Organisme Lokal (MOL). MOL dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair, dekomposer untuk pembuatan kompos dan dapat digunakan sebagai pestisida nabati untuk mengusir hama. Adapun komposisi cara pembuatan MOL dapat berupa Buah-buahan yang sudah busuk Sebanyak 5 kg, Air kelapa 10 butir, dan Gula jawa 1 kg.
 
Disamping yang telah disebutkan, Nelly juga menyebutkan bahwa Limbah pohon salak dapat dimanfaatkan sebagai bioetanol dan kerajinan. Pada kesempatan sosialisasi masyarakat terlihat antusias. Disamping itu masyarakat memberikan tanggapan dan berharap agar di daerahnya terus diberikan pemahaman dan binaan tentang pengelolaan limbah pertanian yang dapat digunakan kembali sehingga bernilai ekonomis sebagaimana diungkap oleh Mahmud, pemilik kebun salak. (Reported by Asep)
 
Reform to Jakarta! Karena Dunia adalah Seperti yang Anda Impikan Print E-mail
Written by Sitti Sarifa Kartika Kinasih, ST., M.Sc.   
Friday, 09 March 2012

 

Ketika kita melihat jauh ke dalam segala macam problematika perkotaan yang ada, maka akan nampak bahwa sejatinya masalah terletak pada perspektif dan perilaku manusia terhadap lingkungan. Seperti masalah berikut: jumlah limbah dan sampah yang masuk ke Teluk Jakarta 490 ton/tahun, sedangkan di Kepulauan Seribu sudah mencapai sekitar 8,9 ribu ton/tahun menurut Henry Bastaman, Deputi VI Menneg LH dalam KLH (2012). Sampah dan limbah yang masuk ke Teluk Jakarta berasal dari tiga daerah, yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Limbah dan sampah itu terbawa oleh aliran sungai-sungai yang mengalir di tiga daerah tersebut sehingga berdampak sangat buruk bagi ekosistem laut dan pulau serta terhadap aktivitas ekonomi warga di sekitar Kepulauan Seribu maupun Pantai Jakarta Utara. Dari 13 muara sungai yang bermuara di Teluk Jakarta, setiap hari menumpuk 161 ton sampah yang memenuhi area seluas 514 km2 menurut Iswardi, Kepala BPLHD Jakarta Utara dalam Indomaritimeinstitute (2012). Sedemikian besarnya jumlah sampah yang mencemari lingkungan, menunjukkan seberapa buruk kesadaran stakeholder terhadap sampah yang dihasilkannya setiap hari.

Rekor kumuh sungai Ciliwung membuat Jakarta dikenal sebagai kota jamban terpanjang di dunia. Akibatnya adalah banjir seperti di Jakarta dan sekitarnya pada awal Februari 2007 yang membuat kerugian hingga 8,6 triliun rupiah (www.detik.com, 2012). Penyebabnya antara lain: konversi lahan di hulu (maraknya pembangunan villa dan restoran-restoran di kawasan Puncak sejak tahun 1998), limbah industri sebanyak 66% dari total limbah yang harus ditelan Ciliwung (Tim Ekspedisi Ciliwung Kompas, 2009), pembangunan permukiman di bantaran sungai, serta pembuangan sampah dan limbah rumah tangga. Selain itu, sampai tahun 1990, areal persawahan di Bogor dan Jakarta masih 2.414 hektar tetapi sekarang di Jakarta sudah tidak ada sama sekali sedangkan di Bogor dan Cibinong tinggal 72 hektar (Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Wilayah Ciliwung-Cisadane dalam Tim Ekspedisi Ciliwung Kompas, 2009).  
To work together! Semangat ini harus digalakkan untuk menjalin kerjasama yang solid antara pemerintah, LSM, masyarakat, dan generasi muda dengan doktrin terus-menerus lewat media massa jika memang ingin melakukan perbaikan demi Jakarta yang lebih baik. Banyak hal yang dapat dilakukan, antara lain dengan membangun lubang biopori di rumah, pembentukan komunitas-komunitas penerima sampah daur ulang (plastik, kertas, gelas, aluminium) yang memaksa masyarakat untuk bersungguh-sungguh memisahkan sampah organik-anorganik, serta insentif untuk membuat garden roof di gedung perkantoran, sekolah, apartemen, kondominium, ruko, rumah biasa, bahkan gedung industri yang dapat bermanfaat untuk menampung air hujan, mengurangi efek Urban Heat Island, menambah kecantikan lansekap perkotaan, mengurangi suhu perkotaan, meningkatkan kualitas udara, meringankan tagihan listrik AC, memperpanjang daya tahan atap 2 hingga 3 kali.

Solusi untuk penghuni kawasan Ciliwung bisa dimulai dengan reformasi birokrasi yang bersungguh-sungguh. Tindakan yang dapat dilakukan antara lain: penghentian izin pembangunan pabrik dan yang sudah ada harus diberi kewajiban pembangunan areal hijau; pengenaan disinsentif pembangun villa (yaitu harus menjadi donatur utama dan terbesar dalam Proyek Intensif Penanganan Ciliwung 2012-2017); relokasi warga bantaran sungai; pembersihan sungai secara berkala (tanggung jawab dibagi per tim, petugas terbaik mendapatkan insentif, sedangkan yang wanprestasi dikurangi gajinya); membentuk organisasi perintis kegiatan yang melibatkan penghuni kawasan Ciliwung seperti Recycle Trash Festival tiap triwulan atau perlombaan antar kampung membuat hutan kota; PKK tingkat RT menerapkan aturan ‘anti-rubbish dracula’ dan arisan sampah; bahkan pariwisata ramah lingkungan dan waterway setelah Cilwung menjadi jernih.
Relokasi warga bantaran sungai dapat dilakukan dengan memberikan mereka rumah layak huni dan lapangan pekerjaan. Ini bisa diberikan dengan membangun rusunawa atau rusunami yang menggunakan sistem taman atap dan solar cell sehingga tidak memberatkan air tanah Jakarta yang telah terkuras maupun PLN. Namun harus didukung dengan kebijakan adil untuk daerah agar tidak terjadi arus urbanisasi lebih lanjut.

Penerapan aturan ‘anti-rubbish dracula’ (selain mendapat hukuman tertentu, ada hukuman tambahan yakni menjadikan terhukum itu sebagai mata-mata bagi orang yang membuang sampah lainnya untuk dihukum pula dan jika tidak menemukan, maka hukuman akan bertambah berat) diperkirakan dapat efektif mendukung program pemisahan sampah yang menjadi basis terlaksananya Recycle Trash Festival. Aturan tersebut akan sangat menumbuhkan efek jera yang dampaknya positif terhadap kondisi sungai dan laut di Jakarta dan sekitarnya dimana dalam kondisi normal menurut Kompas (2012), sekitar 70 ton sampah diangkat setiap hari dari sejumlah pintu air di Jakarta dan jumlah tersebut akan meningkat apabila jumlah air di sungai bertambah.

Efektifitas pemisahan sampah yakni: apabila 80% sampah adalah sampah organik dari 100 ton sampah, maka akan menghasilkan 20 ton kompos dan 48 ton sampah basah akan menguap karena proses pengomposan, tetapi ada sisa sekitar 12 ton. Kemudian dari sejumlah 20% dari 100 ton tersebut adalah sampah kering yang dapat dijadikan bahan daur ulang, yang dapat menghasilkan 14 ton produk dan sisa proses sekitar 6 ton. Sisa proses kompos dan daur ulang hanya sekitar 18 ton sehingga ini jelas akan mengurangi beban TPA Bantargebang. Untuk itu, pemerintah perlu segera mengubah kebijakan pupuk nasional ke arah biofertilizer bekerjasama dengan industri pupuk kimia agar mulai mengubah sistem produksinya, serta penyuluhan untuk para petani pengguna pupuk kimia.
Program pemisahan sampah akan sangat membuka lapangan pekerjaan bagi pemulung dan sekitarnya bahkan jauh lebih padat karya daripada sekedar memakai incinerator. Perbandingan jumlah lapangan kerja yang mampu diberikan adalah sebagai berikut: incinerator sebanyak 100-290 lapangan kerja, pembuatan kompos sebanyak 200-300 lapangan kerja, sedangkan program daur ulang sebanyak 400-590 lapangan kerja (WWF dan Tiga Serangkai, 2009). Pemda sangat membutuhkan orang-orang yang berjiwa entrepreneur untuk dapat melaksanakan program seperti demikian. Namun, membutuhkan komitmen dan aturan tegas agar jangan sampai ada mark-up. Contoh baik yang telah terjadi di Jepang yakni UU Pengumpulan Sampah Terpilah dan Daur Ulang Kaleng dan Kemasan tahun 1997 yang tercantum jelas mengenai tanggung jawab masing-masing stakeholders, yakni konsumen wajib memilah sampah masing-masing, pemda mengorganisasi sampah itu dan diserahkan ke pabrik pendaur ulang, kemudian pabrik wajib mendaur ulang bahan yang sudah dipilah-pilah tersebut.
 
Sebagaimana kutipan Perkins, “Dunia adalah seperti yang anda impikan” maka, satu kata yang sangat penting adalah, “Berubah!”, yakni menukarkan mimpi buruk kita tentang kota kumuh, pencemaran udara, kemacetan lalu lintas, kesenjangan kaya miskin, kriminal, banjir, kekurangan air bersih, limbah berbahaya, kurangnya ruang hijau, pemerintah yang tidak tegas terhadap spekulasi lahan, masyarakat yang acuh terhadap ekologi dengan suatu mimpi baru, bahwa kita semua akan bersinergi untuk membentuk satu dunia yang baru. Sustainable development untuk Kota Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Sebab kita punya kuasa menyetir alam bawah sadar kita. Jangan sampai generasi masa depan benar-benar bertanya, ”Apa yang dipikirkan oleh orang tua kita? Kenapa mereka tidak tersadar saat memiliki kesempatan?”


 

Last Updated ( Friday, 09 March 2012 )
 
AIR SUMUR TIDAK LAYAK PAKAI Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 02 February 2012
Berdasarkan berita yang dikutip dari koran Radar Jogja tanggal 31 Januari 2012, terjadi pencemaran air sumur warga dusun Krikilan, Sariharjo,Nganglik, Sleman. Bambang Widiyanto salah seorang pemilik sumur yang tercemar, menuturkan sudah hampir sepekan air sumur miliknya mengeluarkan bau tak sedap. Airnya tidak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu warna air sumur yang biasanya bening berubah menjadi pekat hitam kehijauan. Ketika air diendapkan, terdapat kotoran berwarna coklat didasar. Diduga terjadinya perubahan kualitas air sumur karena adanya pencemaran yang berasal dari limbah rumah makan yang berada disekitar rumah warga. Sampai saat ini kasus ini masih dalam penyelidikan Kantor Lingkungan Hidup Sleman.

Fenomena diatas merupakan gambaran tentang pencemaran air tanah yang terjadi di indonesia, seperti yang kita ketahui bahwa air tanah masih menjadi sumber air minum utama bagi sebagian penduduk Indonesia. Penurunan kualitas air tanah umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia yang menyebabkan pencemaran.
Air tanah merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi manusia. Semua orang tahu bahwa tanpa air, maka tidak akan ada kehidupan. Sampai saat ini air tanah masih merupakan sumber air yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Dalam siklus hidrologi, air tanah juga mempunyai peran sebagai salah satu mata rantai yang berfungsi sebagai reservoir. Air tanah mempunyai peranan yang penting, karena mudah diperoleh dan kualitasnya relatif baik.
 
Dalam buku Pencemaran Tanah Dan Air Tanah yang ditulis oleh Prof Suprihanto Notodarmojo menjelaskan bahwa sumber kontaminan yang mempunyai potensi untuk mencemari tanah dan air tanah berasal dari berbagai sumber. OTA (Office of Technology Assesment, USA), 1984, membagi sumber kontaminan air tanah dalam enam kategori, yaitu:
  1. Sumber yang berasal dari tempat atau kegiatan yang dirancang untuk membuang dan mengalirkan (discharge) zat atau substansi. Contoh: Tangki septik dan Kakus, Sumur injeksi, Land application.
  2. Sumber yang berasal dari tempat atau kegiatan yang dirancang untuk mengolah atau membuang (dispose) zat atau substansi. Contoh: Landfill, Tempat pembuangan limbah pertambangan, Kolam penampungan (impoundment), Tempat penyimpanan/pembuangan limbah berbahaya dan Material radioaktif.
  3. Sumber yang berasal dari tempat atau kegiatan transportasi zat atau substansi. Contoh: Saluran riol (sewer) atau saluran limbah.
  4. Sumber yang berasal dari konsekuensi suatu kegiatan yang terencana. Contoh: Air irigasi yang berlebihan dan mengandung pupuk,penggunaan langsung pestisida dan pupuk dalam kegiatan pertanian, pencemaran akibat peternakan dalam farm.
  5. Sumber yang berasal dari kegiatan yang menyebabkan adanya jalan masuk bagi air terkontaminasi masuk kedalam akifer. Contoh: Sumur bor untuk produksi atau eksplorasi minyak, gas, dan panas bumi.
  6. Sumber kontaminan yang bersifat alamiah atau terjadi secara alamiah, tetapi (terjadinya) pengaliran atau penyebarannya disebabkan oleh aktivitas manusia.
 
Recruitment RELAWAN Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 26 January 2012
Last Updated ( Thursday, 26 January 2012 )
 
SOSIALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF BERBASIS PENGELOLAAN SAMPAH DI LOKASI HUNTARA MERAPI Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 16 January 2012
Sebelum terjadinya erupsi,  perempuan merapi hidup dengan berbagai macam kegiatan yang produktif, yaitu bertani, berkebun, beternak, berdagang, menjual jasa, serta kegiatan ekonomi lainnya. Perempuan merapi  menikmati hidup bahagia dan tenang, tanpa ada rasa was-was. Erupsi Gunungapi Merapi yang terjadi pada tahun 2010 memuntahkan material vulkanik  menutup dan merusak lahan yang subur ini termasuk bentang alamnya. Makin hebat letusan gunungapi terjadi, makin tinggi tingkat kerusakan lahannya. Kegiatan–kegiatan yang mendukung perekonomian masyarakat boleh dikatakan rusak. Pascaerupsi Merapi secercah harapan mulai muncul dibalik derita para korban, mereka termotivasi untuk bangkit kembali.

Pusat Studi Lingkungan melakukan kegiatan sosialisasi tentang Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Pengelolaan Sampah Di Lokasi  Hunian Sementara (Huntara) Merapi Gondang 1 Kepuharjo, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 13 Januari 2012. Kegiatan dimulai pukul 09.00 – 11.30 wib. Kegiatan ini dihadiri oleh warga hunian sementara merapi khususnya kaum ibu-ibu. Semangat dan antusias dari ibu-ibu merapi terlihat dari awal sampai selesainya kegiatan.

Pemateri tentang pengelolaan sampah di sampaikan oleh Dosen Teknik Lingkungan sekaligus praktisi pengelolaan sampah UII Bpk.  Hijrah Purnama Putra ST, M.Eng. Menurut bpk. Hijrah, sampah perlu dikelola karena masyarakat memiliki kebiasaan membuang sampah, membakar, “mengalirkan” sampah ke sungai serta mengubur yang mana hal ini bisa mengakibatkan terjadinya pencemaran dan bahkan dapat mengakibatkan terjadinya konflik sosial. Upaya yang bisa kita lakukan untuk mengurangi timbulan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah dengan melakukan pemilahan sampah terhadap sampah organik dan anorganik serta  pengelolaan sampah melalui prinsip 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Sampah – sampah yang bahan dasarnya terbuat dari plastik seperti bungkus kemasan detergen, pewangi pakaian, dan sebagainya dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan dasar tas, sendal, dompet yang memiliki nilai ekonomis. Sehingga sampah yang terlihat tidak berharga apa bila dimanfaatkan kembali akan  bisa menjadi sumber penghasilan untuk warga hunian sementara Gondang 1 Kepuharjo Sleman. “Kegiatan ini bukan merupakan pertemuan pertama dan terakhir, akan ada tindak lanjut dari kegiatan ini” tutur ketua Pusat Studi Lingkungan Ibu Any Juliani. ST, MSc.
Last Updated ( Monday, 16 January 2012 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Results 1 - 9 of 21